Komunitas Hijau

Komunitas Hijau

Minggu, 22 Mei 2011

Lingkungan Sampah Salah Siapa?

Share


http://news.okezone.com/read/2011/03/10/58/433318/lingkungan-sampah-salah-siapa

Dharma Setyawan Ketua Komunitas Hijau Lampung

Kamis, 10 Maret 2011

Sampah sampai saat ini masih menjadi masalah penting dalam tatanan kebijakan nasional dan daerah di Indonesia. Sampah semakin tidak bersahabat dengan alam manakala sampah menjadi pemandangan yang sangat mengganggu keindahan. Bahkan dari tahun ke tahun masalah sampah bukan terselesaikan tapi semakin menambah daftar panjang masalah yang ada di negeri ini. Sejarah di bentuknya UU No 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah dan juga diperbaharuinya Undang-undang No 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup menjadi Undang-undang No 32 tahun 2009 Perlindungan Pengelolaan Lingkungan Hidup merupakan regulasi solutif menyangkut penyelamatn lingkungan dari liberalisme pembangunan dan efek domino sampah. Undang-undang ini juga tidak terlepas dari masalah sampah yang menimbulkan berbagai kerugian di semua sektor kehidupan. Namun semangat diterbitkannya undang-undang tersebut belum dibarengi semangat implementasi dan pemahaman bersama dengan berbagai upaya dari berbagai pihak.

Sampah dan Problem Industri

Sampah tidak hanya menjadi problem keindahan, tapi akibat sampah citra daerah menjadi buruk akibat sampah yang dibiarkan dan tanpa manajemen yang terarah. Upaya pemerintah daerah pun menjadi sia-sia manakala masyarakat tetap acuh dalam kepedulian terhadap dampak sampah. Menurut Sumber KOMPAS (2/1/2011) menyebutkan bahwa Dinas Kebersihan DKI Jakarta menyatakan sampah pada malam pergantian tahun baru di Jakarta mencapai total 7.149 ton atau meningkat dibanding hari biasanya. Padahal, jumlah sampah pada hari biasa hanya mencapai sekira 6.200 ton per harinya. Sumber TEMPO interaktif (1/5/2010) juga menyebutkan negara-negara berkembang diperkirakan akan menghasilkan sampah elektronik dua kali lebih banyak pada enam sampai delapan tahun ke depan. Sebuah studi yang dipublikasikan Jurnal Lingkungan, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi menyebutkan, setiap tahunnya negara berkembang membuang 200 hingga 300 juta perangkat komputer yang tidak terpakai. Angka ini diperkirakan akan meningkat pada tahun 2030 yang jumlahnya mencapai 400 sampai 700 juta sampah komputer setiap tahunnya. Bahkan Kanal Banjir Timur (KBT) mulai dipenuhi sampah. Plastik-plastik bekas, kasur, sisa-sisa makanan, bahkan limbah industri dari pabrik-pabrik di Jakarta Timur terlihat masuk ke dalam kanal sepanjang 26 kilometer tersebut. Di Lampung sendiri masalah sampah sudah mulai mengancam tata kelola daerah. Bandar Lampung harus menerima kegagalan prestasi Adipura akibat sampah yang menjadi masalah kota. Pemimpin daerah yang tidak fokus terhadap masalah sampah ini akhirnya turun citra secara daerah dan nasional akibat mengabaikan manajemen sampah yang perlu segera dilakukan. Metro sebagai kota kedua di Lampung sudah memberikan sinyal-sinyal efek dari sampah yang dari tahun-ketahun bukan berkurang tapi terus bertambah. Negara-negara maju pun pada akhirnya mulai menata ulang dampak pembangunan terhadap kelangsungan lingkungan hidup yang semakin terancam. Upaya berbagai hal terus dilakukan mengingat kerusakan alam akibat liberalisme pembangunan semakin tidak terkendali. Para pemodal baik local maupun asing seringkali mengabaikan makna ancaman lingkungan dari berbagai produk yang secara masif di produksi memenuhi kebutuhan konsumtif di sejumlah negara berkembang. Indonesia sebagai negara konsumtif terbesar di dunia dalam berbagai produk mulai merasakan dampak dari sampah produk yang setiap hari di konsumtif tiada henti.Pola pembangunan gedung, Industri perusahaan, Sampah rumah tangga, dan sampah perkotaan masih menjadi penyumbang terbesar pencemaran lingkungan yang selama ini menjadi masalah serius penataan lingkungan. Dampak yang sangat dirasakan adalah mulai berkurangnya pasokan air bersih disejumlah daerah yang mengalami kerusakan lingkungan. Liberalisme pasar yang telah menjadi watak kapitalisme, semakin lama menjadikan negara berkembang seperti Indonesia bagai keranjang sampah demi meraup pundi-pundi ekonomi. Sampah industri inilah yang nantinya akan berpengaruh pada kesehatan masyarakat dan berakhir pada menurunnya indeks prestasi pendidikan di sejumlah negara berkembang. Pola pencemaran yang dibiarkan terus menerus semakin sukses dengan adanya regulasi pemerintah dalam perdagangan bebas yang membunuh produksi barang dalam negeri. Pemerintah dan pemodal sebagai pemangku kepentingan selama ini hanya melakukan perjuangan jargon lingkungan hidup tanpa ada upaya merata dalam instrumen pemahaman penyelamatan lingkungan hidup. Maka wajar jika dampak sampah bisa langsung kita lihat di Sungai,ledeng, saluran air rumah tangga, dan Pantai rekreasi.

Konstitusi Lingkungan dan Manajemen Sampah

Dalam Undang–undang No 32 tahun 2009 Bab I Pasal 3 menyebutkan Pembangunan berkelanjutan adalah upaya sadar dan terencana yang memadukan aspek lingkungan hidup, sosial dan ekonomi kedalam strategi pembangunan untuk menjamin keutuhan lingkungan hidup serta keselamatan, kemampuan, kesejahteraan, dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa depan. Dan juga dalam Undang-undang No 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah Bab 3 Tugas Dan Wewenang Pemerintahan Pasal 5 menyebutkan Pemerintah dan pemerintahan daerah bertugas menjamin terselenggaranya pengelolaan sampah yang baik dan berwawasan lingkungan sesuai dengan tujuan sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini. Pasal dalam undang-undang di atas merupakan manifestasi semangat memajukan negara dan mempertahankan naturalisasi kehidupan. Percepatan pembangunan yang digaungkan pemimpin dan telah menjadi cita-cita bangsa sebaiknya direalisasikan secara cara pandang masyarakat bersama kearifan localnya. Undang-undang di atas menjelaskan bagaimana pembangunan berkelanjutan merupakan kesadaran terencana yang menimbang berbagai aspek dan menjamin pula keutuhan lingkungan hidup untuk masa depan generasi. Gairah konstitusi ini harus di dukung segenap komponen agar pengejawantahan di lapangan berjalan dengan baik bukan hanya semangat an sich belaka. Manusia dan lingkungan merupakan dua unsur yang saling bergantung. Lingkungan yang baik merupakan cerminan manusia yang memiliki kehidupan baik, sebaliknya lingkungan buruk (red, sampah)merupakan cerminan adanya manusia buruk yang ada di sekitar lingkungan tersebut. Kampanye penyelamatan lingkungan dan manajemen sampah perlu dilakukan dengan membangun karakter kepedulian bersama. Pendidikan berbasis lingkungan, Kesehatan berbasis lingkungan, Ekonomi berbasis lingkungan, Sosial budaya berbasis kepentingan dan Politik berbasis lingkungan perlu ditumbuh suburkan di tengah rusaknya lingkungan kita. Restorasi berbasis lingkungan adalah penanaman nilai-nilai kearifan terhadap generasi bahwa menjaga dan melestarikan lingkungan merupakan kewajiban semua. Para generasi lewat pendidikan sejak dini diajarkan karakter menyayangi alam dengan menjaga dan melestarikannya. Memberikan stimulan cinta lingkungan dan pemanfaatan sampah di mulai dari kecil akan berpangaruh besar bagi karakter dewasa generasi mendatang yang harapannya mereka sadar akan lingkungan yang baik. Program bank sampah yang selama ini menjadikan sampah lebih memiliki nilai manfaat juga perlu disampaikan dengan sosial dan budaya. Terbukti program bank sampah menjadi indurtri kteatif ibu-ibu dan memiliki nilai ekonomi.Pola hidup bersih dan menjaga lingkungan dapat diberikan kepada masyarakat lewat lembaga kesehatan. Dan politik lingkungan adalah upaya pemangku kebijakan untuk lebih fokus pada cara pandang pemimpin dalam menjinakkan para pemodal yang mencoba mengkapitalisasi dan mengeksploitasi sumber daya ekonomi dan berakibat pada rusaknya lingkungan dan menimbulkan banjir sampah. Jika masalah sampah belum teratasi maka kita semua memiliki tenggung jawab bersama untuk terus berjuang di tengah hegemoni kapitalis. Kesalahan dalam mengambil kebijakan marupakan merupakan kewajiban kita untuk membenahinya. Pemerintah, NGO, LSM, aktivis lingkungan dan rakyat sama-sama di tuntut membenahi semuanya. Sampah perlu manajemen, sampah perlu pemanfaatan. Karena kita peduli mari kita beraksi!!!

Minggu, 15 Mei 2011

KAKEK DAN DEMOKRASI POHON

Share


Oleh : Dharma Setyawan


Kakek kenapa pohon  hutan itu di tebang?
Kata orang hidup akan kering dan gersang tanpa pohon
Bahkan pohon akan memberikan yang terbaik jika kita menjaganya
Bukankah Indonesia di sebut paru-paru dunia?

Kakek kenapa pohon  hutan itu di tebang?
Sekarang kicau burung itu telah hilang
Tiada lagi nyiur lambaian angin yang menyegarkan kehidupan
Padahal pohon menjaga bumi dari erosi, abrasi, dan dehidrasi

Kakek kenapa pohon  hutan itu di tebang?
Mungkin pohon suatu saat akan menuntut reformasi seperti manusia
Mungkin suatu saat pohon di hutan itu minta untuk demokrasi
Bukankah pohon itu memiliki hak hidup sama di bumi

Kakek kenapa pohon  hutan itu di tebang?
Ajarkan semangat bajamu yang sangat cinta pada alam
Semangatmu yang tidak lelah seiring lemahnya tubuh rentamu
Yakinkan aku untuk terus mampu teruskan perjuanganmu

Dan pohon-pohon akan tersenyum pada kita
Dan pohon-pohon akan melambaikan rantingnya
Dan pohon-pohon akan membantu nafas kita
Dan pohon-pohon benar telah berdemokrasi

Lampung, 17  Februari 2011

Si Bocah Lingkungan (Si BOLI)

Share



Menunggu Hadirnya 
Buku Saku Anak Pendidikan Lingkungan
Penulis : Dharma Setyawan
Kartunis : Elly Agustina
Penerbit : Pena Hijau Publiser dan Komunitas Hijau Lampung

Si Bocah Lingkungan (Si BOLI)
“Aku dan Lingkungan Hidup”


1.      Mari Tanam Pohon.
Pohon adalah pelindung bagi makhluk hidup. Pohon yang tumbuh besar dan banyak dapat di temukan di Alam kita. Pohon yang jumlahnya banyak itu di sebut hutan. Hutan melindungi semua makhluk yang ada di dalamnya dari sengatan dan panas terik matahari. Pohon dapat menyaring pencemaran udara yang mengganggu pernapasan kita. Pohon juga dapat menjadikan udara menjadi segar dan sejuk. Aku suka menanam pohon agar lingkungan sekitar menjadi hijau. Pohon di hutan tidak boleh ditebang secara liar, karena bisa membunuh hewan yang ada di dalamnya dan  hewan tersebut akan punah.

2.      Ayo Buang Sampah Pada Tempatnya!
Sampah dapat menggangu pemandangan lingkungan. Sampah harus di buang pada tempatnya. Akibat sampah yang tidak terurus dapat menimbulkan kerugian banyak. Aku dan teman-temanku berusaha menjaga kebersihan. Aku membuang sampah di kotak sampah atau di lubang sampah. Aku membuang sampah dengan memisahkan sampah organik dan non organik. Sampah Organik adalah sampah yang dapat membusuk dan dapat di jadikan pupuk untuk tanaman. Sampah Non Organik adalah sampah yang tidak dapat membusuk dan ada yang dapat di manfaatkan kembali.
Dengan memisahkan sampah organik dan non organik kita dapat mengolah sampah dengan baik. Sampah harus dikelola dengan baik agar tidak merugikan. Akibat membuang sampah sembarangan dapat menyumbat saluran air dan mengakibatkan banjir. Karena Aku peduli lingkungan maka aku buang sampah dengan benar dan pada tempatnya!



3.      Hijau Bumiku!
Bumi harus kita jaga bersama-sama. Bumi menjadi tempat kehidupan semua makhluk hidup di atasnya. Bumi perlu dijaga bersama-sama dari kerusakan lingkungan. Bumi yang terhampar luas memiliki sumber daya alam yang bermanfaat bagi makhluk hidup. Ada hutan, laut, barang tambang, flora (tumbuhan), Fauna (hewan), dan kekayaan alam di dalamnya.
Di dalam hutan ada hewan yang di lindungi, satla liar yang indah dan langka. Hutan dapat menyerap air dan menahannya agar bumi tidak kering.. Di bumi ada laut yang membentang luas dan terdapat beranekaragam hewan laut yang sangat indah. Ada terumbu karang, rumput laut, ikan yang berjuta jenis dan bermanfaat bagi manusia.  Di dalam bumi ada barang tambang sebagai sumber daya alam yang sangat berguna bagi kehidupan manusia. Ada minyak, tembaga, emas, besi, gas, dan barang tambang lainnya. Aku akan menjaga bumiku dengan tidak merusaknya, tidak menebangi hutannya agar hewan disalamnya tidah punah. Aku cinta Hijau Bumiku!



   Sekolahku, Lingkunganku. 

Sekolahku tempat belajarku yang nyaman. Setiap aku dan kawanku selalu menjaga kebersihannya. Bersama teman-teman, aku berangkat pagi untuk membantu petugas sekolah menyapu halaman yang kotor. Di kelasku semua tertata, meja dan kursi tertata rapi, ada vas bunga di atas meja, lantainya  Di depan kelasku ada taman yang di penuhi dengan bunga-bunga. Selain itu juga ada kolam kecil yang terdapat ikan hias yang sangat indah. Aku dan teman-teman selalu menjaga kebersihan lingkungan. Sekolahku menjadi indah karena kami selalu menjaga dan memelihara kebersihan.
Di Pinggir Sekolah Ada pohon yang ditanam agar sekolahku menjadi hijau dan sejuk. WC di sekolahku juga sangat bersih. Kami di anjurkan Bapak dan Ibu guru untuk selalu menjaga kebersihkannya. Wc yang bersih tidak menimbulkan bau, semua itu agar nyaman bagi siapapun yang memakainya. Sekolah bersih membuat kami senang dan nyaman untuk belajar. Kebersihan adalah sebagian dari iman. Aku dan teman-temanku cinta kebersihan. Sekolahku semoga menang sebagi sekolah paling bersih. Sekolahku adalah lingkunganku.


5.      Mesin dan Polusi Udara.
Kota besar banyak pencemaran udara atau disebut Polusi udara. Hal ini akibat asap mesin industri dan mesin kendaraan bermotor. Pabrik-pabirik yang menjulang tinggi mengakibatkan polusi udara. Asap kendaraan bermotor mengakibatkan pernapasan kita tertanggu. Banyaknya polusi udara menyebabkan gangguan pernapasan makhluk hidup di bumi. Polusi udara juga berakibat pada semakin melebarnya lapisan Ozon dan membuat panas matahari semakin menjadikan bumi kita gersang akibat kemarau.
Polusi udara dari mesin sejak dini harus kita kurangi dengan melakukan gerakan sehat melalui jalan sehat atau bersepeda sehat. Dengan mengurangi penggunaan mesin bermotor kita dapat menghemat energi Bahan Bakar Minyak (BBM) yang harganya semakin tinggi. Penghematan BBM berguna bagi berkurangny apolusi udara yang mencemari lingkungan udara di sekitar kita. Aku ingin lingkunganku bebas polusi.  (bersambung....)

Tokoh Lingkungan

Share


Enam Tokoh Lingkungan membawa Obor Olimpiade 2008-WWF Indonesia

Dapet Informasi dari WWF-Indonesia masalah Olimpiade 2008, monggo dibaca sama2...
Enam tokoh lingkungan terpilih untuk menjadi pembawa obor (torch bearer) Olimpiade 2008 yang akan dibawa melalui 21 kota di dunia termasuk Jakarta, pada konferensi pers yang diselenggarakan di gedung International Sport Club of Indonesia (ISCI), Jalan Raya Ciputat, Situ Gintung - Ciputat. Keenam tokoh yang dipilih karena kepedulian mereka terhadap lingkungan hidup tersebut diperkenalkan pada konferensi pers yang diselenggarakan Coca-Cola Indonesia di Jakarta, 18 Maret 2008.
Coca-Cola sebagai salah satu presenting partner acara ini memperoleh kesempatan dari Beijing Organizing Committee for the Olympic Games (BOCOG) untuk mencalonkan nama enam orang pembawa obor di setiap kota yang akan dilalui. Dalam penyusunan daftar tersebut, sesuai dengan tema yang diusungnya “Kepedulian Terhadap Lingkungan Hidup”, Coca-Cola bekerjasama dengan berbagai pihak termasuk WWF-Indonesia untuk mencari “Environmental Heroes” atau tokoh yang berperan aktif sesuai kapasitasnya dalam melestarikan lingkungan hidup.
CEO dan Direktur Eksekutif WWF-Indonesia Dr. Mubariq Ahmad menyatakan bahwa tokoh-tokoh yang telah terpilih sebagai pembawa obor tersebut diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi masyarakat Indonesia untuk semakin peduli lingkungan hidup Indonesia. “Partisipasi dan antusiasme sebagai pembawa obor Olimpiade oleh keenam tokoh yang selama ini telah kita ketahui banyak terlibat dalam menggemakan pesan-pesan konservasi tersebut, mencerminkan bahwa semangat yang berkobar untuk melestarikan lingkungan hidup harus selalu ditularkan dan dijaga nyalanya,” ujar Mubariq.
Adapun individu yang dipilih oleh Coca-Cola sebagai Pembawa Obor dalam Kirab Obor Olimpiade 2008 di Jakarta adalah: Emil Salim, sosok yang sangat dikenal dalam upaya pelestarian lingkungan di Indonesia; Tri Mumpuni Wiyatno, Direktur Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan (IBEKA) yang aktif bergerak dalam pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro; Azhar Idris, warga Aceh yang memprakarsai penanaman kembali pohon bakau (mangrove) di daerah pesisir Aceh yang rusak akibat tsunami; Valerina Daniel, Duta Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup yang juga mantan model dan presenter TV; Agustinus Gusti ‘Nugie’ Nugroho, musisi dan Supporter Kehormatan WWF-Indonesia serta; Nirina Zubir, pemain film, presenter TV, dan juga Supporter Kehormatan WWF-Indonesia yang kedua-duanya aktif pada kampanye penyelamatan lingkungan hidup bersama WWF-Indonesia. Mereka direncanakan akan ikut berlari dan membawa obor pada acaraOlympic Torch Relay di Jakarta, 22 April 2008 mendatang.
WWF-Indonesia dalam rangka Hari Bumi se-Dunia, 22 April, mengajak berbagai konstituen lingkungan hidup untuk berperan serta dalam rangkaian kegiatan sebulan “Bumi-ku Satu”. Sekali lagi WWF-Indonesia bekerjasama dengan Coca-Cola Indonesia akan menyajikan program ‘Green Screen’ (pemutaran informasi audiovisual bertema lingkungan) di lima kota, selain beberapa kota lainnya yang diadakan oleh tim lapangan di wilayah kerja WWF-Indonesia di tanah air. Dalam program ini, siswa yang diundangmenyaksikan pemutaran film peduli lingkungan akan berdiskusi interaktif sehingga lebih tertarik untuk aktif menjaga lingkungan hidup dalam kehidupan sehari-hari.
WWF merupakan salah satu dari organisasi konservasi mandiri terbesar dan sangat berpengalaman di dunia, dengan hampir 5 juta supporter dan memiliki jejaring global yang aktif di lebih dari 100 negara dan di Indonesia bergiat di hampir 30 wilayah kerja lapangan. Misi WWF-Indonesia adalah menyelamatkan keanekaragaman hayati dan mengurangi dampak aktifitas manusia melalui: Mempromosikan etika konservasi yang kuat, kesadartahuan dan upaya-upaya konservasi di kalangan masyarakat Indonesia; Memfasilitasi upaya multi-pihak untuk perlindungan keanekaragaman hayati dan proses-proses ekologis pada skala ekoregion; Melakukan advokasi kebijakan, hukum dan penegakkan hukum yang mendukung konservasi, dan; Menggalakkan konservasi untuk kesejahteraan manusia, melalui pemanfaatan sumberdaya alam secara berkelanjutan. Selebihnya tentang kami, silakan kunjungi website utama kita di http://www.panda.org/; situs lokal di http://www.wwf.or.id/ dan situs keanggotaan WWF-Indonesia dihttp://www.supporterwwf.org/.
Info lebih lanjut:
Elshinta S-Marsden, Senior Manager, Communications & Outreach, tel. +62 576 1070; (O) Ext. 112, e-mail: ESMarsden@wwf.or.id
Nazla Mariza, Marketing Communications, tel. +62 576 1070; (O) Ext. 109, e-mail: NMariza@wwf.or.id
PROFIL PENGUSUNG OBOR OLIMPIADE BEIJING 2008 PILIHAN COCA-COLA INDONESIA
 Emil Salim
Tokoh ini merupakan perintis yang membidani lahirnya lembaga pengelola lingkungan hidup di Indonesia. Sampai saat ini, beliau memiliki masa pengabdian terpanjang sebagai Menteri Lingkungan Hidup, yaitu sejak 1978-1993 atau selama 3 periode. Di kancah internasional, Emil Salim mendapat kepercayaan dari United Nations Environment Programme (UNEP) menjadi President Governing Council tahun 1984-1987. Pada periode yang sama, beliau juga menjadi anggota dari World Commission on Environment and Development-UNEP. Sedangkan di tingkat regional beliau pernah menjadi Vice President Advisory Committee on Population of the Sea (ACOPS) for South East Asia. Terakhir, menjabat sebagai Ketua Delegasi Republik Indonesia (DELRI) pada konferensi perubahan iklim (COP 13 Bali 2007).
 Tri Mumpuni Wiyatno Iskandar
Ia, yang biasa dipanggil Puni, menerangi desa dalam arti sebenarnya. Ia membangun pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH). Sampai saat ini sudah puluhan lokasi diterangi dengan listrik berkat jasanya. Karena itu, meskipun telah ‘melistriki’ banyak tempat, Puni yang menjadi Direktur Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan (IBEKA), lembaga swadaya yang dia dirikan pada 17 Agustus 1992, terus mengembangkan end use productivity.
 Azhar Idris
Azhar Idris, pemimpin komunitas dari Aceh ini mempunyai prakarsa untuk menanam kembali pohon bakau (mangrove) di daerah pesisir seluas 30 hektar di desa Lam Pulo Ujong, Aceh yang sebelumnya hancur-lebur diterjang tsunami pada Desember 2004. Ia kemudian mengajarkan masyarakat sekitar untuk menanam mangrove melalui program Green Coast, sebuah kerjasama dengan Wetlands International dan WWF-Indonesia yang memungkinkan pemulihan ekosistem pesisir dengan pendekatan holistik yang melibatkan tiga komponen, yakni scientific assessment, community-based economic empowerment and sustainability danresponsible coastal region management policy.
 Valerina Daniel
Mantan presenter TV yang sudah dikenal oleh khalayak luas ini, telah menjadi Duta Lingkungan dari Kementrian Lingkungan Hidup (KLH) Indonesia sejak 2005 hingga saat ini.Beberapa waktu yang lalu, Valerina ditunjuk sebagai humas untuk Panitia Nasional Konferensi Perubahan Iklim 2007 yang diadakan di Bali, Indonesia. Sebagai Duta Lingkungan, saat ini Valerina secara aktif mendukung dan terlibat dalam kampanye pelestarian lingkungan yang diadakan oleh KLH. Salah satu kontribusinya adalah dengan menyusun brosur COP 13 (13 Cara Oke Pelihara Bumi) yang didistribusikan secara nasional oleh KLH.
 Nugie
Agustinus Gusti Nugraha atau biasa disapa Nugie, memang sudah lama akrab dengan dunia lingkungan hidup. Ia aktif di berbagai organisasi lingkungan, dan menjadi Supporter Kehomatan WWF-Indonesia. Saat menjadi Kerabat WWF-Indonesia di tahun 1995, Nugie bahkan sempat memandu acara talkshow ’Bumiku Satu’ selama tiga tahun, yang membahas masalah-masalah lingkungan di Indonesia. Lantaran peduli dengan kelestarian alam itulah, musisi ini hadir dalam acara pembukaan Konferensi PBB untuk Perubahan Iklim (United NationsFramework of Climate Change Conference/UNFCCC) 2007 di Bali.
 Nirina Zubir
Nirina adalah salah satu dari segelintir artisserba bisa di Indonesia yang aktif mengkampanyekan penyelamatan lingkungan. Selain sebagai presenter, ia juga berprofesi sebagai pemain film dengan sejumlah penghargaan. Di tengah kesibukannya ini, Nirina tetap mau untuk bergabung menjadi Supporter Kehormatan WWF-Indonesia dan tetap setia mendukung kegiatan-kegiatan WWF-Indonesia ditanah air. Salah satu andil Nirina adalah dalam kegiatan WWF-Indonesia ‘One Step for Change’ yakni kampanye sadar lingkungan di tahun 2007. Ia juga menjadi juru bicara the British Council dan WWF-Indonesia pada ‘Asian Young Leaders Climate Forum’, sebuah jejaring untuk para pemuda dari berbagai latar belakang; dan membagi berbagai pengetahuan, pengalaman dan ide praktis untuk mengurangi dampak perubahan iklim pada acaraKonferensi PBB untuk Perubahan Iklim (United Nations Framework of Climate Change Conference/UNFCCC)2007 di Bali.

DEMOKRASI DEMI LINGKUNGAN HIDUP

Share


Si Orang Gila Pengelola Sampah

Share

Sampah, semua kalangan masyarakat pasti sudah tidak asing lagi dengan kata tersebut. Sampah sering diidentikan dengan sesuatu yang menjijikkan, bau, kotor, musti dihindari dan musti di jauhkan dari jangkauan manusia. Namun hal tersebut tidak berlaku bagi perempuan kelahiran Bandung, Yuyun Ismawati. Dia beranggapan bahwa sampah merupakan sesuatu yang musti dikelola sehingga dapat memberi peluang bagi masyarakat berpenghasilan rendah dan membuat masyarakat memperbaiki kualitas lingkungan. Dirinya menyebut para aktivis lingkungan termasuk dirinya sendiri sebagai “orang gila” karena pekerjaan mereka tidak populer bahkan aneh, nyaris tidak dihargai oleh masyarakat umum dan pemerintah, dan malah justru kerap berurusan dengan aparat hukum.
Perempuan lulusan Teknik Lingkungan ITB ini mengaku pernah dilaporkan ke polisi dan ditahan karena dituduh melakukan penghasutan kepada masyarakat dan menyebarkan hal-hal yang tidak benar mengenai lokasi Pembangkit Listrik Tenaga Sampah yang hanya berjarak 200 meter dari permukiman penduduk, padahal seharusnya minimal berjarak 15 Km. Hal tersebutlah yang kemudian mereka protes, selain soal penggunaan insiniator yang menghasilkan lebih banyak karbon dioksida dan zat-zat yang beracun lainnya.
Yuyun dan para rekannya berpendapat bahwa banyak aktivis lingkungan di Indonesia yang tidak dihargai bahkan kerap dianggap sebagai musuh. Justru lembaga internasional yang sering memberi apresiasi atas penanganan limbah yang dia kerjakan. Karena perjuangan tak kenal lelah yang ia dedikasikan kepada lingkungan itulah dia dinobatkan oleh majalah Time sebagai Heroes of Environtment 2009 yang sebelumnya pada tanggal 5 Oktober dia bersama lima orang temannya yang tergabung dalam Ashoka Fellows juga mendapatkan pengharagaan Goldman Environmental Prize 2009, penghargaan tertinggi di bidang lingkungan karena nobel tidak memberikan penghargaan lingkungan.