Sampah, semua kalangan masyarakat pasti sudah tidak asing lagi dengan kata tersebut. Sampah sering diidentikan dengan sesuatu yang menjijikkan, bau, kotor, musti dihindari dan musti di jauhkan dari jangkauan manusia. Namun hal tersebut tidak berlaku bagi perempuan kelahiran Bandung, Yuyun Ismawati. Dia beranggapan bahwa sampah merupakan sesuatu yang musti dikelola sehingga dapat memberi peluang bagi masyarakat berpenghasilan rendah dan membuat masyarakat memperbaiki kualitas lingkungan. Dirinya menyebut para aktivis lingkungan termasuk dirinya sendiri sebagai “orang gila” karena pekerjaan mereka tidak populer bahkan aneh, nyaris tidak dihargai oleh masyarakat umum dan pemerintah, dan malah justru kerap berurusan dengan aparat hukum.Perempuan lulusan Teknik Lingkungan ITB ini mengaku pernah dilaporkan ke polisi dan ditahan karena dituduh melakukan penghasutan kepada masyarakat dan menyebarkan hal-hal yang tidak benar mengenai lokasi Pembangkit Listrik Tenaga Sampah yang hanya berjarak 200 meter dari permukiman penduduk, padahal seharusnya minimal berjarak 15 Km. Hal tersebutlah yang kemudian mereka protes, selain soal penggunaan insiniator yang menghasilkan lebih banyak karbon dioksida dan zat-zat yang beracun lainnya.Yuyun dan para rekannya berpendapat bahwa banyak aktivis lingkungan di Indonesia yang tidak dihargai bahkan kerap dianggap sebagai musuh. Justru lembaga internasional yang sering memberi apresiasi atas penanganan limbah yang dia kerjakan. Karena perjuangan tak kenal lelah yang ia dedikasikan kepada lingkungan itulah dia dinobatkan oleh majalah Time sebagai Heroes of Environtment 2009 yang sebelumnya pada tanggal 5 Oktober dia bersama lima orang temannya yang tergabung dalam Ashoka Fellows juga mendapatkan pengharagaan Goldman Environmental Prize 2009, penghargaan tertinggi di bidang lingkungan karena nobel tidak memberikan penghargaan lingkungan.
Sampah, semua kalangan masyarakat pasti sudah tidak asing lagi dengan kata tersebut. Sampah sering diidentikan dengan sesuatu yang menjijikkan, bau, kotor, musti dihindari dan musti di jauhkan dari jangkauan manusia. Namun hal tersebut tidak berlaku bagi perempuan kelahiran Bandung, Yuyun Ismawati. Dia beranggapan bahwa sampah merupakan sesuatu yang musti dikelola sehingga dapat memberi peluang bagi masyarakat berpenghasilan rendah dan membuat masyarakat memperbaiki kualitas lingkungan. Dirinya menyebut para aktivis lingkungan termasuk dirinya sendiri sebagai “orang gila” karena pekerjaan mereka tidak populer bahkan aneh, nyaris tidak dihargai oleh masyarakat umum dan pemerintah, dan malah justru kerap berurusan dengan aparat hukum.
Perempuan lulusan Teknik Lingkungan ITB ini mengaku pernah dilaporkan ke polisi dan ditahan karena dituduh melakukan penghasutan kepada masyarakat dan menyebarkan hal-hal yang tidak benar mengenai lokasi Pembangkit Listrik Tenaga Sampah yang hanya berjarak 200 meter dari permukiman penduduk, padahal seharusnya minimal berjarak 15 Km. Hal tersebutlah yang kemudian mereka protes, selain soal penggunaan insiniator yang menghasilkan lebih banyak karbon dioksida dan zat-zat yang beracun lainnya.
Yuyun dan para rekannya berpendapat bahwa banyak aktivis lingkungan di Indonesia yang tidak dihargai bahkan kerap dianggap sebagai musuh. Justru lembaga internasional yang sering memberi apresiasi atas penanganan limbah yang dia kerjakan. Karena perjuangan tak kenal lelah yang ia dedikasikan kepada lingkungan itulah dia dinobatkan oleh majalah Time sebagai Heroes of Environtment 2009 yang sebelumnya pada tanggal 5 Oktober dia bersama lima orang temannya yang tergabung dalam Ashoka Fellows juga mendapatkan pengharagaan Goldman Environmental Prize 2009, penghargaan tertinggi di bidang lingkungan karena nobel tidak memberikan penghargaan lingkungan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar